
For once you have tasted flight,
you will walk the earth with your eyes turned skywards
for there you have been
and
there you will long to return..
—
*Leonardo da Vinci*
Tahukah kamu, dalam setiap penerbangan ada masa-masa yang disebut “Critical Phases of Flight” atau dalam bahasa Indonesianya bisa diartikan sebagai”Masa-masa kritis dalam penerbangan.”
Critical phases of flight adalah masa saat pesawat sedang:
Mengapa penting sekali mengenal saat Critical Phases of Flight ini?
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Badan Investigasi Kecelakaan Transportasi di Amerika (NTSB), 80% kecelakaan pesawat udara terjadi pada saat “Critical Phases of Flight.”
Pada masa ini penerbang sibuk mencurahkan seluruh perhatian serta konsentrasinya pada instrumen pesawat, melakukan kontak radio dengan Air Traffic Controller (ATC) dan mengawasi situasi di sekelilingnya, memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan sesuai prosedur keselamatan penerbangan dan untuk itu mereka tidak boleh diganggu atau diajak bicara kecuali mengenai hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan penerbangan pada saat itu; karena sedikit saja kesalahan dibuat penerbang pada masa ini bisa berakibat fatal.
Keadaan dimana para penerbang tidak boleh diganggu (pada masa-masa kritis) ini dalam dunia penerbangan dikenal dengan sebutan “Steril Cockpit.”
Awak kabin tidak dibenarkan melakukan aktivitas apapun selain hal-hal yang berkaitan dengan prosedur keselamatan seperti memeriksa serta memastikan penumpang dan kabin pesawat dalam keadaan aman dan siap menghadapi hal-hal berbahaya yang mungkin saja terjadi saat Critical Phases of Flight.
Awak kabin diharapkan segera duduk di tempat duduk awak kabin (jumpseat) dan mengenakan sabuk pengaman mereka setelah menyelesaikan semua tugas utamanya yakni menjaga keselamatan penerbangan.
Pada masa-masa kritis ini penerbang akan menyalakan lampu tanda kenakan sabuk pengaman.
Penumpang diharuskan duduk di kusinya dan mengenakan sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi, melipat meja dihadapannya, menyimpan barang-barang miliknya dengan baik, membuka penutup jendela, mematikan alat elektronik dan bersama-sama awak kabin dan penerbang berkonsentrasi dan berdoa dalam hati untuk keselamatan bersama.
Sekarang sudah mengertikan, mengapa seringkali awak kabin mengeryitkan dahinya saat melihat penumpang masih berdiri, pergi ke lavatory atau meminta minum saat Critical Phases of Flight?
Hari itu,
![]()
Aku usapkan gincu pada bibir tipis yang bernyanyi
Ku gelung rambut yang mulai menipis, tinggi tinggi
Kupandangi wajah diri, jejak ratusan ribu senyum
Terpahat halus dan rapi
Ku sematkan sayap kecilku di dada kiri
Ku rapihkan kembali seragamku yang wangi
Bersiap pergi ke negri dewa dewi
Kupandangi diriku sekali lagi sambil berjanji
Semua akan kulayani sepenuh hati
Pergi dan pulang tetap seperti ini
Dan aku akan kembali memahat rapi jejak senyuman hari ini
Jeddah, 3rd May 2016
AED atau Automated External Defibrillator mulai banyak ditemukan di tempat umum seperti airport, rumah sakit dan mall di Indonesia. Namun sayangnya sedikit sekali yang paham kegunaan dan cara pemakaian AED ini baik masyarakat umum maupun petugas khusus dimana AED berada. Tidak tersedianya pelatihan dasar First Aid yang terjangkau dan memadai bagi masyarakat Indonesia menjadi penyebab kurangnya pengetahuan dan keberanian masyarakat awam untuk memberikan pertolongan pertama atau First Aid, sehingga ketersediaan AED pada fasilitas umum ini terkesan hanya sebagai penghias dinding dan sarana kelengkapan fasilitas umum yang ada saja. Awak kabin Indonesiapun tidak diberikan pelatihan penggunaan AED karena memang AED tidak tersedia di dalam pesawat terbang Indonesia karena dianggap masih belum diperlukan.

Sebenarnya apa kegunaan dari alat AED ini dan bagaimana cara pengoperasiannya?
AED adalah alat stimulator detak jantung portable menggunakan listrik tegangan tinggi untuk memulihkan korban Cardiac Arrest akibat serangan jantung dan lainnya. Penggunaan AED harus dibarengi dengan CPR (Resusitasi Jantung Paru) yang baik.
Berbeda dengan serangan jantung (Heart Attack) yang korbannya sulit bernafas namun masih dalam keadaan sadar akibat adanya sumbatan pada arteri jantung, Cardiac Arrest adalah kehilangan kesadaran dan kemampuan bernafas normal akibat gangguan eletrikal pada jantung sehingga menyebabkan pompaan aliran darah yang membawa oksigen ke jantung menjadi terganggu. Heart Attack atau serangan jantung dapat berujung pada Cardiac Arrest. Kondisi ini tentunya mengganggu asupan Oksigen tidak hanya untuk jantung tapi juga organ tubuh penting lainnya seperti otak dan paru-paru.
Tidak tersedianya asupan oksigen pada otak selama 4 – 6 menit saja dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan otak yang tidak bisa diobati atau diperbaiki lagi. AED membantu mengembalikan detak jantung yang berhenti/tidak normal menjadi normal kembali melalui sengatan listrik pada jantung korban yang dialirkan dari AED melalui kabel dan bantalan sticker yang ditempelkan pada dada korban.
Ada banyak jenis AED di pasaran namun demikian cara penggunaannya tetap sama dan tentunya dibuat mudah bagi masyarakat awam untuk bisa menggunakannya.
Temukan ketiga benda ini pada AED sebelum anda mulai menggunakannya:

Pastikan kedua hal ini pada korban sebelum menggunakan AED:
Tata cara penggunaan AED:
AED hanya boleh digunakan pada anak usia 8 tahun ke atas dan aman digunkan pada wanita yang sedang hamil. Pemakaian pada anak usia 8 tahun kebawah diperlukan Sticker pad khusus untuk anak.
Di negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa, CPR dan penggunaan AED sudah dikenal dengan baik oleh masyarakat umum mulai dari anak-anak sampai orang dewasa sehingga tidak hanya Paramedik, perawat ataupun dokter yang boleh dan bisa melakukan CPR ataupun AED.
Pemberi pertolongan pertama atau First Aider dilindungi oleh Good Samaritan Law yakni masyarakat yang menolong orang lain yang terluka atau memerlukan pertolongan pertama pada kecelakaan atau sakit tidak dapat di tuntut ke pengadilan apabila terjadi kesalahan dalam proses pertolongan pertama tersebut. Apabila korban dalam keadaan sadar, penolong harus menanyakan dulu apakah korban bersedia untuk diberi pertolongan. Belum pernah ditemukan adanya kasus patah tulang akibat kesalahan tekanan saat RJP ataupun CPR ataupun akibat buruk lainnya akibat kesalahan penggunan AED.
Memberikan pertolongan pertama walau sedikit adalah lebih baik daripada tidak sama sekali dan begitu pula hendaknya yang berlaku di Indonesia.
Hasil penyelidikan pada kecelakaan penerbangan membuktikan bahwa 40% dari korban yang meninggal ataupun terluka sebenarnya bisa diselamatkan. Bagaimana penumpang bisa keluar dengan selamat dari kecelakaan pesawat?
Skydewi akan memberikan tipsnya:
1. Pastikan bahwa sepatu yang anda kenakan adalah sepatu bertali yang nyaman. Sepatu bertali akan menghindari anda dari kehilangan sepatu akibat terlepas dari kaki saat terjadi benturan keras pada kecelakaan. Bayangkan berjalan diantara puing-puing pesawat yang terbakar mencari jalan keluar tanpa pelindung kaki.
2. Kenakan pakaian yang terbuat dari serat natural seperti katun yang tidak mudah terbakar. Hindari memakai pakaian berbahan dasar poliester karena bahan jenis ini tidak tahan panas dan di dalam kabin yang terbakar suhu udara menjadi sangat panas sehingga menyebabkan baju berbahan poliester meleleh dan menempel pada kulit pemakainya.
3. Kebanyakan penumpang menyukai duduk di barisan kursi dekat pintu keluar dengan asumsi akan mudah menemukan jalan keluar bila terjadi kecelakaan. Hal ini tidak sepenuhnya benar karena kita tidak pernah tahu bagaimana dan bagian mana dari pesawat yang akan membentur landasan terlebih dulu saat kecelakaan. Sesaat setelah selamat dari benturan keras, pintu terdekat belum tentu bisa berfungsi dengan baik sehingga yang terpenting adalah mengenali area dimana anda duduk dan pelajari bagaimana anda dapat mencapai pintu-pintu darurat di sekitar anda dan keluar dengan segera. Hitung berapa baris kursi ke depan dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan karena saat pendaratan darurat lampu penerangan di kabin bisa saja tidak tersedia sehingga anda harus meraba mencari jalan keluar.
4. Untuk menghindari cedera pada tubuh bagian bawah saat benturan keras terjadi, kenakan selalu sabuk pengaman dengan erat tepat di atas bagian pinggul anda, bukan di atas pinggang ataupun paha. Saat terbang, lepaskan sabuk pengaman hanya pada saat lampu tanda kenakan sabuk pengaman di atas kursi anda tidak menyala.
5. Baca selalu kartu keselamatan penerbangan yang tersedia di kantung kusi di depan tempat duduk anda. Kartu kecil ini memberikan banyak informasi penting untuk anda seperti jumlah dan lokasi pintu darurat, lokasi baju pelampung dan masker oksigen untuk anda bila diperlukan serta posisi duduk yang disarankan bila terjadi benturan keras saat pendaratan darurat.
6. Dengarkan dan patuhi selalu perintah keselamatan yang diberikan awak kabin dan pilot seperti penggunaan sabuk pengaman, larangan merokok dan sebagainya karena awak kabin lebih tahu dan dilatih untuk selalu waspada akan adanya bahaya saat penerbangan.
7. Ingat; Anda hanya punya waktu 90 detik untuk keluar dari pesawat setelah kecelakaan pesawat terjadi. Tinggalkan semua barang bawaan anda dan segera menuju pintu keluar. Hal ini disebabkan hanya 90 detik waktu yang dibutuhkan bagi api untuk melahap habis seluruh tubuh pesawat yang terbuat dari aluminium serta menyebarkan asap beracun yang mematikan. Ya, sangat cepat sekali, hanya 90 detik. Waktu 90 detik ini juga menjadi patokan bagi para awak kabin dan pilot untuk mengevakuasi penumpang serta keluar menyelamatkan diri; apapun bentuk dan ukuran pesawatnya.
Segala macam cara dilakukan airline untuk membuat penumpang mau meluangkan waktu menyimak safety demonstration. Salah satunya dengan menampilkan keluguan anak anak sebagai awak kabin yang bertugas di pesawat. Sudah selayaknya orang dewasa memiliki kesadaran yang lebih besar akan pentingnya keselamatan penerbangan dibandingkan anak anak yang masih lucu dan lugu ini.
“Brace Brace atau “Brace for impact” adalah salah satu call out (teriakan) yang kalau boleh jujur setiap awak kabin seumur hidup pasti tidak ingin mendengarnya.
Mengapa demikian?

Brace for impact atau dalam bahasa Indonesia berarti “posisikan diri untuk benturan keras”, diteriakkan oleh pilot saat pendaratan darurat baik dalam expected emergency (pendaratan darurat terencana) ataupun unexpected emergency (pendaratan darurat tidak terencana) di darat maupun di air yaitu pada sekitar 30 detik sebelum benturan atau saat pesawat berada pada ketinggian 500 kaki.
Teriakan “Brace Brace” atau “Brace for Impact” dari pilot ini kemudian akan diikuti oleh teriakan awak kabin kepada penumpang yaitu biasanya “Brace, Brace, Brace….”, “Bend Down, Bend Down…” atau lainnya (tergantung dari prosedur yang ditetapkan oleh airline tersebut) sampai pesawat mendarat dan berhenti dengan sempurna.
Ada bermacam macam posisi Brace for Impact untuk penumpang, diantaranya:
1. Membungkuk sejauh mungkin sambil memeluk lutut.
2. Membungkuk sejauh mungkin sambil melindungi kepala dengan tangan yang ditumpuk. 
3. Membungkuk sejauh mungkin sambil meletakkan kedua tangan ke kursi penumpang di depan.
Posisi Brace for Impact bagi awak kabin tentunya berbeda dengan penumpang dikarenakan kursi awak kabin dilengkapi dengan harness (sabuk pengaman/penahan yang melindungi tubuh bagian dada) sehingga tidak perlu membungkuk seperti penumpang yang setiap kursinya hanya dilengkapi dengan seat belt.
Dengan memposisikan diri dalam posisi Brace for Impact diharapkan penumpang dan awak kabin tidak mengalami atau setidaknya mengurangi cedera akibat hantaman keras badan pesawat pada landasan.
Masing masing airline menginformasikan posisi Brace for Impact yang mereka rekomendasikan kepada penumpangnya melalui kartu keselamatan atau Safety Card yang disediakan bagi setiap penumpang di dalam setiap kantung kursinya. Posisi Brace for Impact bagi mereka yang membawa bayi juga diinformasikan di dalam kartu keselamatan ini.
Tidak selamanya teriakan Brace for Impact berakhir dengan benturan keras yang berujung pada penggunaan alat peluncur. Ada saat dimana pendaratan darurat berakhir dengan selamat tanpa kerusakan apapun sehingga pilot memutuskan untuk mengeluarkan penumpang dengan cara normal yaitu menggunakan tangga atau Jetway/Aero Bridge (jembatan).
Prosedur setiap airlines bisa saja berbeda, Penumpang diharapkan mendengarkan dan mematuhi setiap aba aba yang diberikan awak kabin. Awak kabin telah dilatih dan selalu dilatih untuk menjamin kelayakan dan keselamatan setiap penerbangan yang dioperasikannya.

For once you have tasted flight,
you will walk the earth with your eyes turned skywards
for there you have been
and
there you will long to return..
—
*Leonardo da Vinci*
Pramugari tidak diperbolehkan memakai sepatu dengan hak yang terlalu tinggi dan lancip atau stiletto karena hak lancip seperti ini dapat merusak atau melubangi alat peluncur saat evakuasi dan juga bisa melukai pramugari itu sendiri serta orang lain disekitarnya. Selain itu hak yang terlalu tinggi dan lancip tidak baik bagi kesehatan pramugari yang harus berdiri selama berjam-jam di dalam pesawat.
Sepatu yang baik untuk pramugari adalah sepatu yang nyaman dipakai namun tetap sederhana dan tidak terlihat seperti orang yang hendak pergi ke pesta. Ornamen yang terlalu meriah serta aksessoris yang berlebihan membuat penampilan pramugari terlihat murahan dan tidak professional. Untuk itu perusahaan penerbangan biasanya membagikan sepatu untuk para pramugari dan pramugaranya agar terlihat sama dan sesuai dengan seragam yang dikenakan. Bagi perusahaan yang tidak membagikan sepatu, peraturan mengenai keseragaman bagi awak kabinnya tetap harus dipatuhi serta dijadikan pedoman saat awak kabin membeli sepatunya sendiri.
Sepatu pramugari tidak selalu berwarna hitam melainkan disesuaikan dengan seragam yang dikenakan. Beberapa airlines yang memakaikan seragam jenis kebaya panjang pada pramugarinya seperti Singapore Airlines, atau Lion Air, menggunakan sepatu sandal dengan sedikit aksen baju seragam pada sepatu sandal mereka agar terlihat sesuai. Sepatu bagi pramugari dan pramugara merupakan bagian dari kelengkapan seragam yang jika dikenakan diharapkan dapat menunjukkan citra yang ingin diciptakan perusahaan penerbangan.
Coba bandingkan seragam Garuda Indonesia dan Air Asia. Citra apa yang nampak dari sang pramugari apabila seragam tersebut dikenakan? Yang manakah yang wannabe lebih sukai?
Awak kabin harus pandai memberikan alasan walau dengan sedikit berbohong untuk meyakinkan penumpang agar tidak kecewa sehingga mengalami bad mood sepanjang penerbangan. Penumpang “Bad mood” bisa berbahaya karena suka mempengaruhi penumpang di sekelilingnya dan membuat penerbangan jadi Miserable.
Inilah moment-moment bohong putih tersebut:
1. Saat Kehabisan Pilihan Makanan
Ngga tau kenapa, penumpang kalau disodorkan pilihan daging sapi atau ayam, 75% pasti memilih ayam. Sementara jumlah pilihan makanan yang naik selalu seimbang. Ngga mungkin kan kalau semua mau minta ayam. Seringkali penumpang yang kecewa membentak-bentak awak kabin. Terpaksa deh awak kabin berbohong.
2. Saat Menghadapi Penumpang yang (Ingin) Merokok.
Paling gemes sama penumpang mau merokok ini. Padahal sudah disebutkan berkali-kali dalam setiap kesempatan announcement tetap nga mau mengerti. Awak kabin harus menjelaskan kembali bahaya merokok di dalam pesawat dan untuk lebih meyakinkan lagi awak kabin terpaksa harus berbohong.
3. Saat Menghadapi Penumpang Nyebelin yang Pingin Kenalan
Kalau cuman sekedar tanya nama trus berbincang bincang ringan saja sih tidak apa apa. Terkadang banyak juga penumpang genit yang mencoba kenalan lebih jauh sehingga awak kabin terpaksa melancarkan jurus jitunya.
4. Saat Menghadapi Penumpang yang Pinjem Pulpen
Kelihatannya sepele, tapi 95% penumpang yang pinjem pulpen awak kabin pasti nga mau ngembalikan. Padahal pulpen adalah salah satu alat penunjang awak kabin dalam bekerja yang nga kalah penting dengan make up. Awak kabin sering harus menanda tangani form saat melewati imigrasi atau form katering dan lain sebagainya. Awak kabin sibuk bekerja sehingga seringkali terlupa untuk meminta kembali pulpen yang dipinjam sehingga terpaksa deh berbohong.
5. Saat Ingin Buang Air di Lavatory yang Banyak Antrian
Biasanya setelah penyajian makanan, penumpang akan berebut untuk menggunakan kamar kecil. Kadang awak kabin juga ingin menggunkan kamar kecil tapi begitu melihat antrian panjang penumpang jadi nga tega. Terpaksa deh meluncurkan jurus ini. Dengan memakai sarung tangan plastik awak kabin siap mengambil alih lavatory.
Saking pinternya nge-les seringkali awak kabin disebut seperti bajaj. Pernah lihatkan bagaimana pintarnya abang bajaj menyupiri kendaraannya, ngeles kiri ngeles kanan. Tapi mesti diingat ini semua untuk kenyamanan dan kepentingan penumpang juga.
Jangan lupa untuk selalu mengucapkan 3 kata sakti berikut ini: Maaf, Permisi, dan Terima Kasih.
Selamat mencoba.